Laman

Minggu, 21 November 2010

PENGERTIAN AKAD

A. Pengertian akad
Akad dalam bahasa arab yaitu al-‘aqdu yang berarti perikatan perjanjian dan pemufakatan. Pertalian ijab atau pernyataan malakukan ikatan dan qabul atau pernyataan menerima ikatan harus sesuai dengan kehendak syari’at yang berpengarh pada objek perikatan.
Semua transaksi yang dilakukan oleh dua pihak atau lebih tidak boleh menyimpang dan harus sejalan dengan kehendak syari’at tidak boleh ada kesepakatan untuk menipu orang lain, transaksi barang-barang haram, dan kesepakatan untuk membunuh orang.
Mustafa al-Zarqa’ menyatakan, bahwa tindakan hukum yang dilakukan manusia terdiri atas dua bentuk yaitu :
1. tindakan berupa perbuatan
2. tindakan berupa perkataan
Tindakan berupa perkataan terbagi lagi menjadi 2 yaitu tindakan yang bersifat akad dan yang tidak bersifat akad. Yang bersifa akat terjadi bila dua atau beberapa pihak mengikatkan diri untuk melakukan sesuatu perjanjian. Dan tindakan yang tidak bersifat akad terbagi lagi menjadi dua yaitu :
1. akad yang tidak memerlukan kabul seperti kehendak pemilik untuk melimpahkan hak, membatalkannya, atau menggugurkannya, seperti wakaf, hibah atau talak.
2. tidak ada mengandung kehendak pihak yang menetapkan atau mengguurkan suatu hak, tetapi perkataannya mengandung suatu tindakan hukum seperti gugatan yang diajukan kepada hakim dan pengakuan seseorang didepan hakim. Tindakan semacam ini berakibat timbul suatu ikatan secara hukum tetapi tidak mengikat. Jadi sebagia ulamu bahwa ini tidak termasuk dalam akad.
Mustafa al-Zarqa’ dalam pandangan syara’ suatu akad merupakan ikatan yang dilakukan oleh dua atau beberapa pihak yang sama-sama berkeinginan untuk mengikatkan diri.kehendak atau keinginan pihak-pihak yang mengikatkan diri itu sifatnya tersembunyi dalam hati. Karena itu, untuk menyatakan keinginan masing-masing diungkapkan dalam suatu syarat. Pernyataan itulah yang disebut dengan ijab dan Kabul. Ijab Kabul adalah salah satu bentuk indikasi yang menyatakan tentang adanya rasa suka sama suka.
Pelaku (pihak) pertama disebut mujib dan pelaku (pihak) kedua disebut qaabil. Contoh dalam transaksi jual beli, umpamanya pembeli berkata “ saya telah membeli barang ini dengan harga sekian” kemudian oleh penjual dikatakan “saya telah menjual barang ini dengan harga sekian”.

B. Rukun akad
Menurut jumhur fuqaha, rukun akad terdiri dari :
a. pernyataan yang mengikatka diri (sighal ai-aqd)
b. pihak-pihak yang berakad
c. obyek akad
Ulama Mazhab Hanafi berpendapat, bahwa rukun akad itu hanya satu yaitu sighal al-aqd, sedangkan pihak-pihak yang berakad dan objek aakad termasuk syarat akad.
Sighal al-aqd merupakan suatu akad yang terpenting, karena melalui akad inilah diketahui maksud setiap pihak yang melakukan akad atau transaksi. Sighal al-aqd dinyatakan melalui ijab dan Kabul, dengan suatu ketentuan :
a. Tujuan akad itu harus jelas dan dapat dipahami.
b. Antara ijab dan Kabul harus ada kesesuaian.
c. Pernyataan ijab dan Kabul itu harus sesuai dengan kehendak masing-masing, dan tidak boleh ada yang meragukan.
Ijab dan Kabul dapat dalam bentuk perkataan, perbuatan isyarat, dan tulisan (biasanya transaksi yang besar nilainya). Namun semua ijab dan kabl itu mempunyai nilai kekuatan yang sama.
Contoh ijab dan Kabul dalam perbuatan adalah seperti yang terjadi di pasar swalayan. Seseorang mengambil barang, sesudah membayar harganya kepada kasir sesuai dengan harga yang tercantum pada barang tersebut. Cara seperti inilah yang banyak kita temukan dalam dunia dagang pada saat ini.
Sebagian ulama ada yang tidak membenarkan akad seperti ini karna kedua belah pihak harus menyatakan secara elas mengenai ijab dan kabul, namun sebagian ulama yang lain membolehkan jual beli seperti ini karna telah menjadi kebiasaan dalam masyarakat. Dengan demikian, adat kebiasaan yang membawa pada maslahat, dapat dibenarkan sebagai landasan dalam menetapkan suatu hukum.
Ijab dan kabul antara seseorang yang bisu dengan penjual ataupembeli dapat dibenarkan, asal kedua belah pihak dapat memahami dengan jelas apa yang dilakukan itu.

C. Syarat umum suatu akad
Para ulama fiqh menetapkan, ada beberapa syarat umum yang harus dipenuhi dalam suatu akad, disamping setiap akad juga mempunyai syarat-syarat khusus. Umpamanya : akad jual beli memiliki syarat-syarat tersendiri. Demikian halnya dengan akad al-wadi’ah,hibah, ijarah (sewa-menyewa).
Syarat-syarat umum suatu akad :
a. Pihak-pihak yang melakukan akad telah dipandang mampu bertindak menurut hukum. Apabila belum mampu, harus dilakukan oleh walinya. Akad yang dilakukan dilakukan oleh orang gila atau anak kecil hukumnya tidak sah.
b. Objek akad itu harus diakui syara'. Akad ini harus memenuhi syarat :
i. Berbentuk harta
ii. Dimiliki seseorang
iii. Bernilai harta menurut syara'.
Dengan demikianyang tidak bernilai harta menurut syara' tidak sah seperti khamar (minuman keras)
Disamping itu, jumhur fuqaha selain ulama madzhab Hanafi mengatakan, bahwa barang najis seperti anjing, babi dan bangkai tidak bleh dijadikan objek akad karna tidak bernilai menurut syara'. Menurut Mustafa al-Zarqa harta wakaf pun tidak boleh dijadikan objek akad karna harta wakaf bukanlah hak milik yang boleh diperjual belikan. Objek akad juga harus ada dan dapat diserahkan, contah memperjual belikan padi yang belum berbuah tidak boleh atau menjual kanin hewan yang belum lahir.
c. Akad itu tidak di larang oleh nash syara'. Atas dasar ini, seorang wali atau pemelihara anak kecil, tidak di benarkan menghibahkan hrta anak kecil tersebut.
d. Akad yang di lakukan itu, memenuhi syarat-syarat khusus dengan aakd yang bersangkutan, di samping harus memenuhi syarat-syarat umum.
e. Akad itu bermanfaat.
f. Ijab tetap utuh sampai terjadi kabul.
g. Ijab dan kabul dilakukan dalam satu majelis, yaitu suatu keadaan yang menggambarkan proses suatu transaksi.

D. Bebas mengemukakan syarat dalam akad
Setiap manusia mempunyai kebebasan untuk mengikatkan diri pada suatu akad, dan sebagai akub akibatnya wajib memenuhi ketentuen hukum yang ditimbulkan oleh akad tersebut sebagaimana dalam al-qur'an yang artinya " hai orang-orang yang beriman penuhilah akad-akad itu . . . . (al-maidah:1)
Pada saat ini, biasanya antara pembeliu dan penjual membuat persyaratan-persyaratan dalam akad, seperti barangnya diterima di tempat penjual atau pembeli, atau pengirimanya bertahap atau sekaligus dan sebagainya.
Hendaknya diperhtikan, bahwa setiap terjadi suatu akad, mempunyai akibat hukum, yaitu tercapai suatu sasaran yang ingin di kehendaki bersama.

E. Macam-macam akad
Apa bila dilihat dari segi keabsahannya menurut syara', maka akad dibagi dua yaitu :
1. Akad sahih, yaitu akad yang telah memenuhi syarat dan rukun. Dengan demikian, segaa akibat hukum yang ditimbulkan oleh akad itu, berlaku kepada kedua belah pihak.
Ulama mazhab Hanafi dan Mazhab Maliki membagi lagi akad sahih ini menjadi dua macam:
a). akad yang nafiz (sempurna untuk dilakukan) yaitu yang dilansungkan dengan memenuhi syarat dan rukun dan tidak ada penghalang untuk melakukannya.
b). Akad mauquf yaitu akad yang dilakukan seseorang yang mampu bertindak atas kehendak hukum, tetapi dia tidak memiliki kekuasaan untuk melansungkannya.
Menurut Mazhab Syafi'i dan Mazhab Hambali, jual beli yang mauquf itu tidak sah.
Lebih lanjut, jika dilihat dari sisi mengikat atau tidak jual beli sahih itu, ulama fiqih membaginya kepada dua macam :
a). Akad yang bersifat mengikat bagi kedua belah pihak, sehingga satu pihak tidak boleh membatalkannya tanpa seizin pihak yang lain, seperti akad jual beli dan sewa-menyewa.
b). Akad yang tidak bersifat mengikat bagi kedua belah pihak, seperti pinjam-meminjam dan wadi'ah (barang titipan).
2. Akad yang tidak sahih yaitu akad yang terdapat kekurangan pada rukun dan syaratnya, sehingga akibat hukuim tidak berlaku bagi kedua belah pihak yang melakukan akad itu.
Kemudian Madzhab Hanafi membagi lagi akad yang tidak Sahih ini kepada dua macam yaitu akad yang bbati dan akad yang fasid.
Suatu akad dikatakn batil, apabila akad itu tidak memenuhi salah satu rukun dan larangan langsung dari syara’. Umpamanya : objek akad (jual beli0 itu tidak jelas seperti menjual ikan dalam empang (lautan) atau salah satu pihak tidak mampu atau belum pantas bertindak atas nama hukum seperti anak kecil atau orang gila.
Suatu akad dikatakan fasid, adalah suatu akad yang pada dasarnya dibenarkan, tetapi sifat yang diakadkan tidak jelas, seperti menjual mobi tidak disebutkan merknya, tahunnya dan sebagainya. Jual beli semacam ini tidak lagi dianggap fasid apabila mobil yang dijual itu lengkap diberikan datanya. Namun jumhur ulama berpendapat akad yang batal dan fasid tetap tidak sah dan akad tersebut tidak mengakibatkan hukum apapun bagi kedua belah pihak.

F. Berakhir suatu akad
Ulama fiqh menyatakan bahwa suatu akad dapat berekhir apabila terjadi hal-hal seperti berikut :
1. berakhir masa berlaku akad itu, apabila akad itumemiliki tenggang waktu.
2. dibatalkan oleh pihak-pihak yang berakad, apabila akad itu mengikat.
3. dalam suatu akad yang bersifat mengikat, akad dapat berakhir bila :
a. Akad itu fasid.
b. Berlaku khiyar syarat, khiyar ’aid.
c. Akad itu tidak dilaksanakan oleh satu pihak yang berakad.
d. Telah tercapai tujuan akad itu secara sempurna.
4. wafat salah satu pihak yaang berakad.
Menurut beberapa pendapat, walaupun salah satu pihak wafat, dapat diteruskan oleh ahli warisnya, seperti akad sewa menyewa dan gadai. Dengan demikian tidak ada pihak yang dirugikan.